Pengangguran merupakan masalah yang tiada ujungnya dan menjadi salah satu masalah mendasar dalam bangunan perekonomian. Berdasarkan data BPS yang baru dirilis, jumlah penganggur per Agustus 2009 sebesar 13,08% dari total angkatan kerja yang mencapai 113,83 juta orang. Dalam jumlah itu, pengangguran terdidik yang berasal dari lulusan perguruan tinggi naik menjadi 14,89 juta dibandingkan dengan 14,09 juta orang pada periode yang sama tahun sebelumnya (Simanjuntak, 2009). Kondisi tersebut disebabkan oleh sukarnya ketersediaan lapangan kerja dan adanya gap antara kebutuhan dunia usaha dengan kualitas lulusan perguruan tinggi. Oleh karenanya, kewirausahaan merupakan alternatif agar lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi dapat memberdayakan kemampuannya dengan membangun lahan usahanya sendiri. Dengan demikian, kewirausahaan tidak saja mengatasi pengangguran tetapi dapat membuka lahan pekerjaan yang kemudian mampu mengurangi pengangguran lainnya.
Struktur Pengangguran
Model pembangunan ekonomi yang menekankan pada tradable goods menyebabkan lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki kualifikasi memadai tidak terserap di pasar tenaga kerja. Dengan adanya ledakan jumlah penduduk, maka beban penduduk juga semakin bertambah. Lulusan pendidikan tinggi dapat berdiri pada dua jalur yaitu sebagai sumber daya produktif atau malah menjadi beban penduduk. Lulusan yang memiliki kemampuan memadai dan mampu bersaing dalam dunia usaha akan menjadi sumber daya produktif yang dapat mewarnai dunia usaha sehingga mampu berkontribusi pada perekonomian, sebaliknya lulusan yang tidak memiliki skill sehingga menjadi pengangguran justru menjadi beban bagi perekonomian. Penganggur dari perguruan tinggi seringkali bukan disebabkan oleh kebodohannya tetapi banyak disebabkan oleh kemampuannya yang belum sejalan dengan kebutuhan dunia usaha.
Masalah perguruan tinggi di Indonesia dengan dunia kerja adalah adanya kesenjangan skill lulusan dengan kualifikasi yang diinginkan dunia usaha. Upaya untuk melakukan link & match antara perguruan tinggi dengan dunia usaha sukar dilakukan karena perguruan tinggi masih mengarahkan kurikulumnya pada perkembangan keilmuan dan belum banyak mengarahkan pada muatan praktis dan teknologi terapan sesuai kebutuhan dunia usaha. Akibatnya, perguruan tinggi dan dunia usaha sukar menemui jalan tengah agar lulusan perguruan tinggi dapat diserap dengan baik oleh pasar tenaga kerja.
Di luar daya serap dunia usaha terhadap tenaga kerja berpendidikan tinggi, salah satu masalah adalah skill lulusan perguruan tinggi. Saat ini, industri yang tengah berkembang bergerak pada natural resources based dan service industry yang membutuhkan banyak tenaga kerja ahli dan skill yang memadai. Sementara perguruan tinggi belum dapat menyediakan lulusan yang sesuai dengan kualifikasi dunia usaha. Dunia usaha sering beranggapan bahwa lulusan sarjana belum dapat untuk langsung ”on the fly” pada praktik di lapangan dengan kata lain masih dianggap nol. Akibatnya, perlu ada pelatihan berkesinambungan bagi para fresh graduate seperti program graduate trainee, management trainee dan lain-lain, untuk memberikan kesiapan bagi para lulusan baru untuk bekerja di dunia usaha. Dengan kondisi demikian, korporasi merasa malas untuk memberikan training untuk mendongkrak kapasitas lulusan perguruan tinggi dan menilai investasi yang dikeluarkan untuk training sarjana lebih mahal, sehingga lebih memilih untuk merekrut lulusan berpendidikan menengah.
Model Kewirausahaan
Terdapat berbagai pengertian pada kewirausahaan, yang secara umum menekankan pada penciptaan organisasi baru, menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru, eksplorasi berbagai peluang, menghadapi ketidakpastian, dan mendapatkan secara bersama-sama faktor-faktor produksi. Schumpeter (1934) mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya. Pelakunya dinilai sebagai inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk: (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Inti dari kewirausahaan adalah kemandirian yang meliputi kemandirian berpikir, bertindak, dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut.
Kewirausahaan tidak hanya berwujud pada kewirausahaan bisnis, namun juga meliputi kemandirian sosial dan kemandirian politik. Peran softskill dalam dua kewirausahaan terakhir sangat penting dibutuhkan di luar hardskill yang telah dipupuk selama di perguruan tinggi. Salah satu contoh kewirausahaan sosial ditunjukkan oleh Grameen Bank di Bangladesh yang mampu menyalurkan pinjaman ke usaha mikro atau kewirausahaan politik seperti ditunjukkan oleh keberadaan lembaga survei politik yang mampu menuai keuntungan besar tanpa harus berbentuk perusahaan formal. Lulusan perguruan tinggi dapat mengembangkan dua model kewirausahaan tersebut sebagai alternatif yang prospektif dibandingkan afiliasi dengan korporasi.
Kemitraan perguruan tinggi dengan korporasi dengan membentuk program seperti internship maupun apprenticeship yang bermanfaat untuk menyiapkan mahasiswa tingkat akhir agar sesuai dengan kebutuhan korporasi. Bentuk internship dan apprenticeship tidak berbentuk layaknya magang kerja atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang biasa dilakukan mahasiswa, namun lebih padat dengan muatan-muatan yang selayaknya diterima karyawan atau management trainee. Di luar negeri, terdapat kerja sama antara korporasi dan perguruan tinggi di mana perguruan tinggi melakukan riset pengembangan yang dibiayai oleh korporasi. Sedangkan di Indonesia, kerja sama antara kedua institusi tersebut belum mengarah ke arah sana. Perguruan tinggi dan korporasi di Indonesia selayaknya membentuk kerja sama semacam itu agar dunia keilmuan di perguruan tinggi sejalan dengan kebutuhan teknologi terapan dan manajemen praktis sehingga sama-sama menguntungkan bagi keduanya.